RANGKUL ODHA : STIGMA BUKAN SOLUSI!


Beredarnya stigma negatif di kalangan masyarakat mengenai penderita HIV/AIDS atau juga disebut ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) mungkin santer terdengar. Banyak yang secara mendadak menjauhi ODHA dan tak jarang pula, banyak ODHA yang terdiskriminasi, terkucilkan hingga dianggap tidak berguna.     
            Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya. Salah satu penyebab penularan HIV/AIDS adalah penggunaan jarum suntik tidak steril pada pecandu narkoba suntik (penasun). HIV dan AIDS masih dianggap penyakit yang tabu dibicarakan secara terbuka kepada orang tua, masyarakat dan bahkan pelayanan kesehatan. Hal ini membuat ODHA dan keluarganya rentan terhadap stigma dan diskriminasi yang berakibat pada hambatan memperoleh perawatan dan pengobatan.
            Stigma dari masyarakat bisa berasal dari keluarga terdekat, teman dan tetangga, serta dari petugas kesehatan. Stigma masyarakat yang diterima ODHA berupa diskriminasi, perlakuan yang merendahkan, perlakuan kasar, dan pembiaran baik di dalam keluarga, lingkungan sosial maupun pelayanan kesehatan. Self stigma berupa perasaan takut terhadap kondisi diri sendiri dan takut terhadap penerimaan masyarakat, serta internalisasi stigma masyarakat atau mengganggap bahwa cap negatif masyarakat terhadap mereka adalah benar.          
            Edukasi jelas jalan terbaik untuk melenyapkan stigma pada ODHA dan mereka yang terinfeksi HIV. Masyarakat harus terus-terusan diajarkan tak hanya tentang bagaimana menghindari penularan AIDS, tapi juga soal bersosialisasi secara beradab dan manusiawi dengan ODHA. Mitos-mitos tak bermutu seperti hanya mereka yang homoseksual dan pengguna narkoba yang mungkin terinfeksi HIV perlu ditepis. Faktanya, bayi yang tak berdosa pun bisa terinfeksi HIV. Sejatinya seperti penyakit mematikan lainnya, siapa saja bisa terkena HIV/AIDS, termasuk ibu rumah tangga yang setia pada suami, mereka yang tak pernah berhubungan dengan sesama jenis atau tak pernah menyentuh pekerja seks komersial.
            Ada banyak rujukan yang dengan mudah dicari bila ingin memahami bagaimana menghindari penularan AIDS/HIV. Tapi bila masyarakat sudah lebih dulu antipati pada ODHA dan mereka yang terinfeksi HIV, keinginan untuk memahami pun buyar. Simpati dan empati adalah barang langka, apalagi bila harus membaginya dengan mereka yang mengusung stigma seperti ODHA. Mungkin cara termudah adalah dengan menempatkan diri pada posisi mereka, bagaimana bila saya yang terinfeksi HIV? Atau bagaimana bila orang  yang saya cintai ternyata ODHA? Apa rasanya terasing, ditakuti, belum lagi dihujat sebagai manusia yang layak menerima azab karena pendosa? Mungkin dengan cara ini kita bisa lebih bersimpati dan berempati pada ODHA dan mereka yang terinfeksi HIV.
 
https://www.dw.com/id/hari-aids-sedunia-kemajuan-harapan-hidup-bagi-odha/a-41484185